Nderek Guru Weblog

Juli 26, 2008

Isra’ Mi’raj dan Krisis Moral

Filed under: Agama — nderekguru @ 6:36 pm

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa legendaris dan fenomenal yang pernah terjadi di dunia. Sebuah perjalanan Sayidul Mursalin Rasulullah SAW yang penuh misteri. Peristiwa tersebut sejak awal telah menjadi perdebatan di kalangan pengikut setia Rasulullah sendiri, sehingga yang imannya lemah bisa diperdaya oleh kaum Musyrikin Quraisy, untuk meninggalkan agama yang dibawa Oleh Rasulullah SAW.

Kaum Musyrikin Quraisy menuduh Rasulullah SAW telah gila. Karena secara rasional, perjalanan yang ditempuh Rasulullah SAW, dari masjidil Haram di Mekah, ke Masjidil Aqsha di Madinah, kemudian naik ke Sidratil Muntaha, tidak mungkin hanya ditempuh dalam satu malam.

Adalah Abu bakar, satu-satunya sahabat Rasulullah SAW yang membenarkan peristiwa bersejarah tersebut, sehingga beliau diberi gelar Ash Shiddiq, yaitu orang yang benar. Pembenaran Abu Bakar tersebut didasarkan karena keimanan yang kokoh dan kepercayaan yang luar biasa, bukan karena rasio. Dengan lantang Abu Bakar Ash Shiddiq berkata “Aku membenarkan perjalanan malam yang dilakukan Rasulullah SAW”.

Dalam QS. Al-Israa’ Ayat 1, Allah berfirman “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Meskipun ayat tersebut di atas telah mengabadikan Isra’ Mi’raj, tetapi perdebatan mengenai peristiwa tersebut masih juga terjadi di banyak kalangan. Perdebatan tersebut, bukan pada apakah peristiwa tersebut benar-benar terjadi atau tidak, namun bagaimana Rasulullah SAW menjalani peristiwa tersebut; Apakah Sayidul Mursalin melakukannya dengan ruh dan raga, atau hanya ruhnya saja ?.

Kelompok rasional yang mengedepankan rasio atau akal dalam memahami teks-teks agama, termasuk kitab suci Al-qur’an, memandang peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai perjalanan ruh Rasulullah, bukan perjalan fisik, karena mustahil Rasulullah bisa menembus jarak yang jauh dalam batas waktu yang singkat.

Sementara kelompok yang lain memandang peristiwa tersebut sebagai mu’jizat yang diberikan Allah kepada Sayyidul Mursalin Rasulullah SAW, sebagai bukti kerasulan Beliau. Hal ini Surat Al-Isra sendiri yang menjelaskan bahwa Allah SWT memperjalankan Rasulullah SAW. Ini berarti bukan kehendak Rasulullah, namun kehendak dari Allah SWT dengen memperjalankan hamba-Nya. Dengan demikian tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT, meskipun menyangkut sesuatu yang sulit diterima oleh akal atau rasio manusia.

Hal yang lebih penting dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut, bukanlah memperdebatkan Isra’ Mi’raj itu sendiri, karena memang kehendak Allah SWT, namun lebih pada memahami kandungan Isra’ Mi’raj itu sendiri, yaitu perintah untuk mendirikan ibadah Sholat.

Kehidupan saat ini, khususnya dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, sedang dilanda krisis moral. Dimana tingkah laku manusia semakin tidak terkontrol. Nilai-nilai Keislaman semakin jauh dari kehidupan manusia, mulai dari penipuan. pemerkosaan, perampokan, KKN, korupsi, narkoba, pembunuhan,  tindakan ketidakadilan dan sebagainya menjadi tontonan hampir setiap hari di media massa. Hal ini menunjukkan semakin rapuhnya moralitas kita sebagai manusia agung ciptaan Tuhan Yang Sebenarnya. Ironisnya lagi, yang melakukan hal-hal tersebut di atas pada umumnya adalah orang-orang islam, yang notabene juga melakukan sholat. Padahal semestinya orang-orang yang melakukan sholat menjadi suri tauladan moral di masyarakat atau bangsa.

Dengan demikian, apakah sudah benar-benar terjadi, apa yang disinggung dalam QS. Almaa’un ayat 4-5, yaitu “Maka kecelakaanlah orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya?”. Oleh karena itu, apakah makna mendirikan sholat belumlah banyak dipahami oleh umat Islam, atau kekhusyukan dalam sholat jauh dari harapan umat Islam?

Padahal bila dikaji lebih jauh, sholat merupakan, Pertama; sholat sebagai tiang agama, sebagaimana dalam hadist “Sholat itu sebagai tiang agama”, Kedua;  Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana dalam QS. Al-Ankabut ayat 45: “Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar”. Ketiga; Sholat sebagai ciri orang mukmin yang beruntung, sebagaimana QS. Al-Mukminun ayat 1-2; “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyu’ dalam sholatnya”. Keempat: Sholat sebagai ciri orang yang bertaqwa, sebagaimana QS Al-Baqarah ayat 1-3, yaitu “Alif laam miim, Kitab (Al-qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa( yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebahagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka”. Kelima; Sholat sebagai pengundang pertolongan Allah, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah ayat 45, yaitu “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu”. Keenam; Sholat sebagai penggugur dosa, sebagaimana sabda Sayyidul Mursalin dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa iang mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat : “Jika kamu perhatikan bahwa seandainya ada sungai di pintu rumahmu untuk mandi setiap hari lima kali, apakah kamu akan mengatakan kotoran (pada badanmu) itu masih ada?” Mereka menjawab, “Tidak, bersih kotoran sedikitpun juga.”Rasul bersabda Maka itulah sholat lima waktu yang Allah dengannya akan menghapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosa).” (HR. Buk\chori)

Dari hal tersebut di atas, maka patutlah menjadi renungan bagi kita semua, bahwa krisis moral yang melanda masyarakat dan bangsa kita ini semestinya dapat diatasi, manakala umat islam dapat memaknai mendirikan sholat itu pada porsi yang sebenarnya sebagaimana dalam Al-qur’an dan hadist sebagaimana tersebut di atas. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Januari 4, 2008

Takut Neraka, Dengan Surga Tak Berani

Filed under: Tak Berkategori — nderekguru @ 8:25 pm

WAN Ali ‘muring-muring’. Dia ‘kesal’ melihat ulah orang-orang yang bertandang ke kediamannya. Pasalnya, sudah berulangkali dinasihati agar jangan suka meremehkan makhluk, tapi masih saja diterabas.             Edan tenan orang-orang yang hidup di zaman sekarang ini. Ditawari masuk neraka, takut. Tapi, anehnya, disuruh ibadah tidak mau. Padahal, menurut pengakuannya, kalau besok dimasukkan Gusti Allah  ke dalam neraka, mereka takut,” kata wan Ali ketika berbincang-bincang dengan ketiga sahabat kentalnya — wan Imin, wan Juned dan wan Abu — di kediamannya.            “Anehnya lagi,” lanjut wan Ali, “ditawari untuk masuk surga, malah ndak berani. Alasannya, karena konsekuensi untuk masuk surga Allah itu tidak mudah, seperti kalau kita sedang membalik telapak tangan.”            “Lalu, maunya mereka apa, wan Ali?” wan Imin tergoda untuk mengajukan pertanyaan.            “Ya … begitulah manusia. Maunya yang serba enak-enak saja. Disuruh prihatin sebentar saja kok ndak mau. Padahal, aslinya, yang bakal merasakan nikmat dari hasil keprihatinan itu adalah diri mereka sendiri. Bukan siapa-siapa,” ujar wan Ali seraya mempersilahkan tamunya untuk minum kopi yang telah dia suguhkan.            “Maksudnya bagaimana, wan Ali?” wan Juned ikut bertanya.            “Begini lho. Kalau, misalnya, Gusti Allah menyuruh manusia untuk berbuat kebajikan, sebetulnya bukan karena Allah tidak mampu untuk melakukannya. Melainkan, supaya manusia itu punya ‘nilai lebih’ di hadapan Gusti Allah. Dengan berpijak pada ‘nilai lebih’ itulah, Gusti Allah kelak akan punya alasan yang kuat untuk memberi ‘hadiah’ berupa kenikmatan kepada manusia. Sehingga, iblis dan setan tidak bisa protes lagi kepada Allah, lantaran Allah telah berbuat baik kepada manusia,” jelas wan Ali.            “Nah, … kalau manusianya itu sendiri tidak mau mengindahkan perintah Gusti Allah,” imbuh wan Ali, “lalu dengan alasan apa Allah akan ‘menghadiahkan’ kemurahan pada manusia? Masalah inilah yang sering tidak dipahami oleh kebanyakan manusia yang hidup di akhir zaman ini. Mereka mengira, tanpa berbuat apa-apa pun, Gusti Allah otomatis akan memberi mereka ‘hadiah’, lantaran sifat Rahman dan RahimNya.”            Wan Ali berhenti bicara sejenak. Ia kemudian menatap ke atas. Sedang ketiga sahabat kental sekaligus pelanggan setia warung hikmahnya itu, juga diam seribu bahasa. Kepala mereka hanya manthuk-manthuk. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka saat itu.            “Betul, Gusti Allah itu Maha Rahman dan Maha Rahim. Tapi, ingat, sifat tersebut hanya bisa dirasakan, jika manusia yang ingin merasakan nikmatnya sifat itu, harus berbuat sesuatu terlebih dahulu. Mengapa demikian? Karena, di dalam perbuatan itulah, sifat Maha Rahman dan Maha Rahimnya Allah, dapat dirasakan. Tanpa adanya perbuatan, bagaimana mungkin manusia bisa merasakannya?” imbuh wan Ali.            Jadi, tukas wan Ali, kalau manusia hanya maunya berpangku tangan saja, ya jangan salahkan Allah kalau Dia kemudian tidak mau membuka hijab rasa yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. “Makanya, kalau tidak mau dimasukkan ke dalam neraka dan pinginnya masuk surga, ya beribadahlah kepada Allah,” tandas wan Ali.

Halo dunia!

Filed under: Tak Berkategori — nderekguru @ 8:10 pm

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog di WordPress.com.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.